dXs23szHnl7KF4gOVMjF7Fhen0DwQwMxHwctoC4h
Bookmark

Mengapa Ada Pesan Ini?

Hai Want.

Sebelum kau baca lebih lanjut pesanku, ku perlu disclaimer dulu.

Seharusnya pesan ini gak pernah ada dan gak pernah ku tulis, tapi karena ku terkejut ketika kau bilang pernah mengecek web ini untuk memastikan bahwa ku gak akan nulis lagi di web ini, jadinya muncul deh ini pesan.

Mengapa ada pesan ini?

Pesan ini juga bukan menjadi tanda bahwa aku bakal nulis lagi tiap bulannya sih, cuma sebagai bentuk reaksi impulsif ku aja.

Kau juga dengar sendiri kan bahwa "ku berenti menulis pesan untukmu supaya gak susah..." lalu tadi jeda dengan diikuti ketidak-terus-terangan.

Yaitu "supaya gak susah berhenti nulisnya, jadi harus komit dari awal untuk gak nulis lagi"

Alasan macam apa itu yakan, wkwk

Padahal seharusnya bilang "supaya gak susah buat move on." Soalnya jeda sepersekian detik itu ku mikir, "apa iya soal ini harus terus terang"

Tapi yagitu deh Want.

Kau tau lah yaa, konsep move on itu ya gimana caranya supaya interaksi berkurang, kemudian meminimalisasi keterlibatan 'sosoknya' dalam hidup.

Kalau ku nulis mulu, meskipun kadang ku minta untuk gak perlu di respons, tapi ya tetep dong, ku biarin hati bermain-main tidak pada tempatnya.

Soalnya konsep orang suka itu kan ketika sedang interaksi bagaimanapun bentuknya yaa pasti punya value tersendiri yang cuma bisa dirasakan oleh pribadi.

Belum lagi kau kan baiknya udah sedari awal kuliah, jauh sebelum ku kagumi, jadi kebaikannya bukan karena conflict of interest.

Sehingga memang perlu effort yang tidak hanya sekedarnya ucapan "melupakan", tapi juga harus ada aksi.

Kadang memang ku nya aja sih yang lebay soal perasaan. Meskipun lebay soal perasaan tuh memang ada alasan secara ilmiahnya. Yaa walaupun ilmiah di sini mengacu pada MBTI test.

Jadi setiap ku test, baik tes mandiri ataupun pas psikotest di beberapa kantor yang pernah ku apply itu, hasilnya selalu menunjukan bahwa diriku ini MBTI nya INFJ.

Ku adalah sekian laki-laki yang mengedepankan perasaan ketimbang logika pada saat mengambil keputusan. Meskipun dalam tes tersebut perbandingan penggunaan perasaan dengan logikanya cuma 53:47. Tapi tetep itu yang buatku gampang banget baper (positif maupun negatif.)

Huaahh, yagitu deh jadinyaa.

Ahh jadi panjang kan tuhh pesannya, maafkan saya yaa, kau harus baca pesan ini lagiiii.


Kau juga harus tau ku bisa berhenti luapin perasaan di web ini ya karena ku luapin (pelampiasan hasrat menulis) ke sahabat pena ku.

Iyaa serius ini loh, jadi ku punya sahabat pena (sok banget sahabat pena, padahal belum pernah ketemu dan bukan teman pada umumnya)

There are two people. First, she is Chinese and also live in Guangzhou, China and second one, she is malay, live in Penang.

Jadi kalo ku gabut dan perlu nulis, ku kirim surat ke mereka (actually like a sent an email) dan mereka akan balas satu minggu bahkan satu bulan setelahnya. Lama sihh, tapi memang bukan untuk obrolan yang produktif, lagian mana ada gabut yang produktif kan.


Itu cokelat yang kesekian yaa dari ku (lagi lagi cuma cokelat) dan memang untuk tahun ini nirkado dan biarlah mereka yang memberikan kado-kado istimewa 😁.

Kalimat "siapa tau itu cokelat yang terakhir" dari ku harusnya dimaknai saja bahwa tahun-tahun selanjutnya kamu barangkali akan diberikan hal yang lebih dari pada sekedar itu dan bukan karena momen habis ulang tahun, tapi pada momen yang lebih serius.

Sama satu lagi, ternyata jam tangannya waktu itu tertinggal yaa... Nampaknya sindiran ku pada pesan sebelumnya cukup mengena yaa, soalnya kau ingat dan menjelaskannya tadi. Maaf ya Want, ku memang suka jail menyilet dengan bahasa wkwk


Oke ku tutup pesannya yaa.

Jangan lupa tersenyum pada hari-hari selanjutnya.

Terima kasih atas bukunya, semoga jadi amal yang terus mengalir karena membantu orang yang sedang menghadapi ujian.

Satu lagi adalah terima kasih kau udah jadi teman yang konsisten berbuat baik ke saya.

Harusnya ku sampaikan juga terima kasihnya ke orangtuamu, soalnya anaknya baik bangetttt.

Ahh siapa tau lain kali, bisa ku lakukan.

Yaudah, sampai bertemu lagi pada kesempatan lain. :)

Foto Kita - saat ini cuma ada satu satunya
Satu-satunya foto. Biar gak hilang.

Dari teman yang berusaha move on,

Naufal Al Rafsanjani

Post a Comment

Post a Comment