dXs23szHnl7KF4gOVMjF7Fhen0DwQwMxHwctoC4h
Bookmark

Istimewa?

Balasan kamu sebelumnya:

Hai Fal, iya kabarku baik ni, alhamdulillah

Semoga kau juga baik ya

Eh wkwk ku ketawa banget kau nanya kabar, soalnya tuh dah kayak temen lama yang baru ketemu, tapi gpp namanya juga pengen tau kabar ye kan..

Emh, sebelumnya makasi ya karena masih terus kirim pesan di sela kesibukan tugas akhir. Dan akhirnya, surat kemarin bukan surat terkahir yang kubaca, sebab masih ada cerita dan pesan baru.

Lepas dari dunia pendidikan akhir tu lega banget, tapi sebentar doang leganya. Karena kenyataan yang harus diterima adalah kita harus milih langkah berikutnya dan lanjutin jalan hidup. Wkwk jalan hidup ga tu. Iya, jadi pasca benar-benar selesai (walau masih ada wisuda) tuh kegiatanku masih bantu-bantu di rumah kayak biasa sambil mikirin ini dan itu. Mikir mau S2 atau engga, mikir mau kerjain apa, mau PPG kah, atau ikut CPNS pakai ijazah SMA (sebab belum wisuda sarjana). Dari hasil mikir ini itu dan berbagai pertimbangan, akhirnya mau coba kerja dulu. Gitu…

Kalau kau nanya kuudah nagajar atau belum, udah cari info buat ngajar di sekolah dan dll? Jawabannya udah, wkkw. Demi dah, kayak engga pede gitu ternyata buat lanjutin langkah baru. Dan, Ku sudah ajuin beberapa lamaran via online, Fal.

Terus, sambil nunggu jawaban akhirnya kubuka les. Umah Bimbel weh namanya. Mulai senin udah beroperasi, alhamdulillah walau baru enam orang. Gitu…

Gimana rasanya mau jadi sarjana? Alhamdulillah iii seneng, semoga kau nyusul secepatnya yaaa. Atau maksimalnya semoga engga ada semester baru yang harus kau bayar (lagi).

Eh harusnya kau tetep datang aja ke wisuda ex-mu. Dia udah ngundang lho wkwk. Tapi sebenernya kalau soal mental si emang harus dijaga, saya juga sempet punya keputusan ‘ga akan mau datang ke wisuda siapapun kalau saya sendiri belum wisuda wkkw’. Ya sebab saya ga akan terima orang lain wisuda duluan, astaghfirullah wkwk. Dasar manusia ye.

Soal skripsimu, masih sama si tanggapanku kayak sebelumnya, dan beneran kaga bisa ketebak banget dah ya rezeki orang di semester akhir, hmmm. Semoga, semua yang kau semogakan perihal skripsi akan lancar ya, amin.


Iya Fal, ku engga jadi ikut ke IBF, sebab adik nenekku masih dirawat waktu itu, dan tentunya ada jam gentian untuk jaga beliau. Tapi alhamdulillah sekarang udah sehat lagi.. IBF kemarin juga engga ramai,tapi tetep kecewa si engga bisa dating karena ku ngincer banyak barang kalau IBF wkwkkw. Yauda gpp.


Fal, perihal komunikasi yang tak mau terputus itu bagus, engga salah juga, tapi jangan se serius ini ya, maksudku ya gpp nanya banyak via wa, tanpa harus ada surat khusus gini, + rencana mau pindahin ke halaman khusus dan lain sebagianya wkwk. Saya engga enak weh jadinya, soalnya kayak yang “wah” banget jadinya. Pas ku liat banyak tulisan-tulisan yang lalu di blog ini tuh jadi kayak yang ‘wew serius banget si Naufal, seniat itu’. Tapi tapi tapi, kalau kau memang suka dengan cara kirim pesan ini ya gpp juga siw.


Fal, please jangan bilang saya baik lagi ya..

Sebab, sebenarnya kebaikan yang kuberi ini relatif, sama halnya dengan banyaknya kebaikan yang kau beri. Kalau ku aja dibilang baik, maka kau sebenarnya lebih baik dari itu Fal..

Jangan bilang gitu lagi ya slurrr..

Fal, kalau kau dulu pernah cerita soal ex-mu, sampai pada akhirnya kau bisa move on pun kutau. Maka sebenarnya kujuga ingin cerita soal ‘siapa’ yang pernah ada di ruangku. Tapi, belum cukup berani dan engga ada niatan banyak untuk memberi tahu.

Sampai pada akhirnya kau bilang ‘kau terjebak dalam perasaan baru’ di pesan sebelumnya? Dan itu perasaan untukku? Disitu kumulai merasa bersalah, merasa salah sebab ada hal yang mungkin berlebihan dariku untuk kau fal, sampai ‘hal’ itu mucul..

Terbilang wajar memang, tapi kuharap jangan terlalu cepat bertambah, sebab ku benar-benar belum bisa melangkah ke ‘hal itu’ karena dari pihak aku yang sebagai perempuan akan tetap menganggap semuanya sama sampai pada waktunya ada yang paling diutamakan.

Makasi ya Fal, dan maaf kalau ada yang kurang berkenan..

Mohon tetap fokus jalani tugas akhirnya ye Fal..

Pesan ini ku tulis di hari yang sama ketika kau menanggapi pesan ku sebelumnya. Jadi mungkin bisa jadi terbaca usang dan kurang relevan jika kau baca di sekitar tanggal 17-20 Oktober.

"Fal sebaik/seistimewa itu kah saya sampai kau rajin buat pesan?" tanyamu, waktu itu.

Ku gak tau, kau beneran ingin mendengar jawaban atas itu, atau kau hanya basa-basi karena gak enak karena dikirimi pesan terus olehku?

Kalau kau butuh jawabannya ku akan jawab, dan kau juga pasti udah tau garis besar jawabannya.

Want, iyaa. Kau memang seistimewa itu dimata ku. Kalau kau lihat lagi pesan-pesan ku yang pernah ku kirim dulu. (Semuanya dimuat dalam web itu). Sudah sejak lama kau ku nobatkan jadi salah satu teman baik ku.

Maaf kalau tetap ku gunakan kata baik. Kau gak perlu merasa bahwa kau masih banyak kurangnya. Menjadi baik itu gak ada hubungannya sama kekurangan yang kau miliki want.

Sebab menjadi baik atau bersikap baik, itu pilihan. Tapi "kekurangan" adalah hal yang udah jadi fitrahnya manusia.

Tentu kau bukan satu-satunya teman yang baik yang ada dihidupku. Tapi kau berhasil mengisi peran lain dan berbeda dari teman baik ku yang lain.

Kau pasti juga punya kan teman baik dengan perannya masing-masing kan? Nah begitupun kau dimataku.

Kau pasti punya perasaan "gak enak" karena khawatir tidak bisa membalas anggapanku atau memposisikan ku yang sama dengan hal yang ku bilang yaa? Atau kau juga berfikir bahwa dengan ini kau mesti melakukan hal yang sama? Iya kan

Ihh nggak perlu want. Bukan gak perlu sih, tapi ga usah dibikin pusing kalii.

Kau hanya perlu nerima fakta, ada laki-laki temen kuliah kau; temen kelas; temen di Jakarta; dan temen yang dulu pernah menyatakan perasaannya. Udah itu aja. Gak kurang, gak lebih.


Agar menjaga kau untuk gak terbang jauh lebih tinggi setelah baca deretan Kalimat di atas, 'ada sedikit sekilas info.'

Ku punya teman dekat itu 3. Tadinya 4, yang satu pindah ke Makassar dan relatif sulit untuk interaksi. Dikatakan teman dekat karena mereka adalah teman yang memang kenalku di luar rutinitas ku. Itu parameter sederhana untuk ku menyematkan predikat teman dekat, di samping kuantitas interaksi tentunya.

Kau itu salah satunya, karena kita pernah bertemu dengan tanpa urusan kuliahan.

Kau masih ingatkah soal itu?

Sementara dua lainnya juga perempuan, pertama My ex yang sekarang jadi teman, kemudian satu lagi teman sekolahku dulu.

Kalau kau nanya "Si F kemana?"

Faktanya dia temen ku di dunia maya, dan sangat terlampau jauh jarak kedekatannya, jika dibawa ke real life. Ini kenyataan yang pernah ku bahas juga dengan orangnya.

Kalau kau nanya "Kenapa perempuan semua?"

Jelas, sebagai laki-laki normal, ku lebih nyaman dekat dengan perempuan. Hahaha

Tapi jangan berfikir ku oportunis mendekati mereka semua.

Karena mereka punya hidupnya masing-masing. Punya pasangan juga masing-masing. Pasangannya juga kenal dengan ku.

Tapi kalau saat-saat genting, pasti ku temui mereka (begitupun sebaliknya) Misal saat waktu itu, confess perasaan, atau saat ku kecewa soal skripsi dan bingung jalan keluar soal bimbingan, ku temui mereka.

Nah bedanya, kalau kau, temen deket yang ku hubungi melalui pesan-pesan panjang ini. Itu uniknya pertemanan kita want :).

(Lebih ke adaptif sih, karena kau bukan orang yang bisa fleksibel untuk urusan bertemu wkwk)

Kenapa ini ku kasih tau kau? Supaya kau tau cara ku nempatin temen-temen deketku gimana.

Oke, selesai sekilas infonya. Mari kembali lagi ke pembahasan awal.


Kau gak mesti merasa atau menganggap ku adalah temen deket kok Want. :) Atau kau gak perlu mesti anggap ku istimewa juga.

Masa alasan istimewa nya karena "Mau gak mau, atau karena gak enak". Kan gak lucu :).

Jadi yaa gpp. :) Dianggap jadi teman yang 'ada' aja juga udah cukup.

Lagipula ku punya temen deket, karena ku justru gak bisa leluasa cerita soal hidupku ke keluarga. Ironis kan? Hal itu terjadi karena gak ditumbuhkan sedari kecil. Makanya akan terasa aneh kalau ku cerita. Mungkin ini yang jadi pembeda antara ku dan kau ya want?

Jadi tugas kau itu cuma satu, kau cuma harus nerima fakta, kau memang istimewa, yaaaa paling enggak menurut ku. (titik gak ada koma. Gak ada tugas lain dan gausah mikirin hal lain atau pusingin mesti gimana)


Hal yang seringkali terulang dan ku udah tau juga dari jawaban-jawaban kau secara implisit sedari awal adalah, kau takut gak bisa membalas kebaikan. Kau takut membuat teman mu ini kecewa. Dan kau juga gak bisa balas perasaanku.

Iyakan???

Kau selalu menekankan itu pada jawabanmu atau dalam obrolan kita secara langsung. Mungkin juga kau heran, kok saya tetep aja ngeyel, udah dibilangin, tetep aja berusaha deketin wkwk

Ini bentuk pengandaian sih, tapi ku yakin kau lakuin itu karena prinsip kau.

Tapi begini want, kau mesti baca pendapatku. Supaya kau gak perlu mengulang-ulang mengatakan soal prinsipmu.

Want..

Kauu tau gak, bahwa orang diam aja nih, gak pernah ngobrol, gak pernah interaksi, bahkan sebenernya kenal secara personal aja enggak,  bisa tumbuh rasa suka. Serius deh.

Jadi gak perlu diambil pusing atuh. Kau gak perlu merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain (paling enggak soal ku), selama itu masih di tataran niat dan bukan tindakan.

Suka sama orang lain, bahkan mengungkapkannya. Berarti mulai dari detik itu harus paham resiko dan konsekuensinya. Itu yang ku lakuin dan ku juga udah perhitungin, walaupun belum tentu kuat. Cuma ya hidup memang penuh konsekuensi kan?

Jadi masukan saya buat kau. Kau jangan terlalu serius-serius banget want :).

Saya paham kok want. Batasan yang gak boleh dilakuin dalam upaya ini.

Ya mungkin salah ku juga sih ya masih suka ngomongin itu wkwk. Masih suka kasih kode, masih suka singgung soal itu, padahal kejadiannya sudah lalu. Dan ujungnya dijawab serius wkwk. Mungkin ku emang gaperlu juga mestinya menekankan itu yaa.

Yaudah, ku gak bakal singgung soal itu lagi kali yaa. Kau mungkin juga gak nyaman, gak enak, dan menganggap kau buat kesalahan karena beri harapan.

Padahal seperti yang ku bilang di atas, bahkan jika kau diam sekalipun, flat. Tetep aja want ku bakalan lakuin hal yang sama kemarin-kemarin.

Tapi yaudah, ku gak akan bahas soal perasaan lagi.

Oh iya sama satu lagi, tadinya pertemuan yang kuinginkan itu isinya ya soal "menuntaskan". Berhubung momentum nya kayanya juga udah hilang. Jadi yaudah ku resmi menarik keinginan itu.

Intinya sekarang kamu fokus sama jalan hidupmu. Ku juga fokus sama jalanku. Sepakat yaa?!

Mesti sepakat, ini bukan pilihan :).


Btw ini pesan terakhir yang ku kirim langsung untuk kau baca. (Kalau gak meleset pesan ini akan ku kirim ke kau tanggal 17-20 Oktober )

Berhenti mengirim bukan berarti berhenti menulis loh Wantttt.

Web ini akan terus ku isi, dengan menjadikanmu sebagai peran utamanya. Kau gak perlu repot-repot memberikan tanggapan. Bahkan kau juga gak ada keharusan untuk membacanya lagi.

Tapi yang jelas ku akan tetap menulis setiap bulannya, dan tanpa perlu berharap kau membacanya.

Mengapa demikian?

Saya udah gak mau lagi :) nyuruh-nyuruh kau baca. Banyak hal yang lebih penting ketimbang baca pesanku.

Web ini akan selalu ada, alamat webnya:

https://s.id/kisah-kamu

atau tautan langsungnya

https://kisahkamu134.blogspot.com

Keduanya sama aja.

Insyaallah pesan selanjutnya akan tersedia tanggal 19 November atau tepat sehari sebelum ku ulang tahun (20 nov) [narsis dikit gpp lah yaa].

Dan akan selalu ada di tanggal 20 setiap bulannya (harusnya).

Jika masih penasaran soal isinya, kau hanya perlu salin linknya dan tandai tanggalnya di kalender google. Nanti bila waktunya, bisa kau baca. Tanpa tanggapan.

Tapiiii jika enggak ada waktu untuk itu lagi. Gpp, gak dosa juga. :) (Itu gak akan mengurangi anggapanku soal kau teman baikku)

Cukup lah yaa... Sampai jumpa dilain kesempatan 

Makasih want.

Post a Comment

Post a Comment